oleh :

Image by FlamingText.com
Image by FlamingText.com

Minggu, 06 Desember 2009

Pelatihan Pengajaran Bahasa Indonesia

Bersama dua orang teman saya yang kompeten di bidang pengajaran Bahasa Indonesia, Nani (seorang linguis dan dosen Sastra Indonesia Unpad yang memberikan teori tentang Bahasa Indonesia) dan Silvie (praktisi, pengajar Bahasa Indonesia di sebuah sekolah dasar di Cilegon), kami memberikan pelatihan –lebih tepatnya bertukar pengalaman- pengajaran Bahasa Indonesia untuk guru-guru Sekolah Dasar Gagas Ceria di Jl. Palasari, Bandung. Kedua teman saya tersebut juga membuat buku dan kumpulan soal Bahasa Indonesia untuk sekolah dasar. Pelatihan ini diberikan atas permintaan pengurus sekolah untuk berbagi pengalaman dalam mengemas pengajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih menarik. Selain itu untuk memberikan sudut pandang lain, sehingga Bahasa Indonesia bukan lagi menjadi pelajaran yang membosankan dan tidak ada gunanya. Atas dasar pemikiran dan keinginan untuk berbagi pengalaman dengan para guru itulah, akhirnya kami terima tawaran untuk mengadakan pelatihan tersebut. Latar belakang guru Bahasa Indonesia di sekolah ini yang tidak satupun berlatar belakang pendidikan bahasa, juga merupakan salah satu alasan pelatihan ini diadakan.

Pelatihan yang dimulai pukul 9.30 ini diikuti oleh 10 peserta dan berlangsung menarik. Dimulai oleh Silvie yang berbagi pengalaman mengajar Bahasa Indonesia dengan menggunakan metode permainan yang menarik. Beberapa alternatif permainan yang diberikan adalah permainan True or False, Index Card Match, Card Sort, menyusun cerita, dan tunjuk abjad. Guru-guru yang saat itu menjadi ”murid” pun mengikuti permainan dengan antuasias. Situasi pun menjadi cerah ceria dan menyenangkan penuh tawa. Ternyata orang dewasa pun tetap senang bermain-main.
Permainan dalam pengajaran bahasa ini, sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh para guru dari sejak mulai mengabsen siswanya. Siswa yang dipanggil namanya diminta menjawab pertanyaan si guru dengan menggunakan kalimat lengkap. Dengan demikian, siswa dilatih untuk membuat kalimat dengan menggunakan subyek, predikat, obyek atau keterangan, tidak hanya menjawab dengan kalimat pendek saja. Kebiasaan menggunakan struktur kalimat yang lengkap ini pun berguna untuk melatih siswa agar berpikir dengan lengkap dan terstruktur.

Untuk melatih pengetahuan tentang lawan kata (antonim), guru bisa meminta siswa menjawab pertanyaan dengan menggunakan lawannya. Misalnya, guru mengucapkan salam dengan keras, maka siswa menjawab salam tersebut dengan pelan. Demikan sebaliknya. Pada permainan true or false, pengajar membagikan kartu kepada siswa yang berisi tentang berbagai macam bentuk kalimat tanya. Siswa harus menentukan apakah kalimat yang ada dalam kartu tersebut benar atau salah. Selanjutnya mereka mereka berbaris di sisi kiri dan kanan sesuai dengan jawaban yang mereka berikan (misalnya: jawaban benar di sebelah kanan, jawaban salah di sebelah kiri). Mereka pun diminta memberikan alasan mengapa mereka menjawab benar atau salah. Dalam prosesnya, siswa bisa pindah barisan, jika dia berubah pikiran. Permainan ini digunakan untuk melatih materi tentang struktur kalimat tanya. Untuk murid sekolah dasar, struktur kalimat tanya biasanya masih bersifat pada struktur kalimat tanya terbuka, artinya kalimat tanya yang menggunakan kata tanya seperti apa, siapa, ke mana, di mana, dan lain-lain. Teori dasar tentang struktur kalimat tanya diberikan, berikut variasi kalimat tanya yang didasarkan misalnya pada intonasi tanpa menggunakan kata tanya. Struktur ini biasanya berupa kalimat tanya terbuka.
Lewat permainan card sort, kosa kata siswa dilatihkan. Guru menempelkan beberapa kartu di papan yang berisi tentang beberapa istilah umum seperti manusia, alam, binatang. Siswa pun sudah mendapatkan kartu berisi kosa kata yang berhubungan dengan suara yang diperdengarkan oleh manusia, binatang, dan alam. Misalnya: mengerang, berhembus, mengembik, dan lain sebagainya. Agar tidak ribut, siswa diminta memasang kartu-kartu mereka di papan tanpa bicara. Hasilnya cukup menarik. Ekspresi wajah peserta pelatihan begitu lucu dan bersemangat. Ternyata masih ada pula guru yang salah meletakkan kartu. Misalnya: kata ’melenguh’ diletakkan di dalam kolom manusia. Rupanya guru tersebut salah membaca kartu kepunyaannya. Sehingga kata tersebut terbaca ’mengeluh’. Suatu perbedaan kecil pada tataran ortografis yang cukup fatal terhadap pemaknaan. Namun, ini menjadikan permainan menjadi lebih menyenangkan.

Index card match adalah permainan untuk melatih pengetahuan tentang lawan kata (antonim). Misalnya: gelap – terang, tinggi – rendah, dan lain-lain. Siswa harus mencari rekannya yang memiliki kartu dengan kata yang berlawanan dengan kata pada kartu miliknya. Selanjutnya mereka harus duduk atau berdiri berdekatan. Permainan ini juga bisa dilakukan tanpa mengeluarkan suara sehingga ekspresi yang muncul akan lebih menarik, suasana kelas pun tidak terlalu ribut (karena walaupun tanpa suara, bunyi-bunyi yang dikeluarkan pun tetap saja lucu).
Menyusun cerita adalah alternatif permainan yang dilakukan untuk melatih kemampuan siswa menyusun satu paragraf yang logis. Sekali lagi, kartu-kartu ditempelkan di dinding, dan para siswa diminta menyusun kartu-kartu tersebut menjadi satu jalinan cerita yang utuh dan bermakna. Pada permainan tunjuk abjad, siswa diminta mengumpulkan sebanyak mungkin kosa kata yang berawalan abjad tertentu. Guru bisa memodifikasi permainan ini dengan menentukan kosa kata untuk kelas kata tertentu, misalnya kata kerja dari abjad S, atau kata sifat dari abjad T, dan lain sebagainya.

Setelah alternatif permainan yang bisa diberikan untuk berlatih Bahasa Indonesia, sesi berikutnya adalah sesi yang lebih bersifat teoretis. Nani memberikan materi teori tentang Bahasa Indonesia sendiri, sedangkan saya melengkapi Nani dengan memberikan materi yang bersifat pemerolehan bahasa dan unsur kebahasaan.

Ejaan Bahasa Indonesia serta Bahasa Indonesia yang baik dan benar sering diabaikan oleh para pengguna Bahasa Indonesia. Padahal dengan memperhatikan aturan ini, struktur dan logika kalimat dalam Bahasa Indonesia (juga bahasa-bahasa yang lain, sebenarnya) yang digunakan pun akan tertata dengan rapi. Bahasa yang rapi, akan membantu pemakainya untuk berpikir dengan rapi dan tertata pula. Tanda baca, ejaan, bentuk kata, imbuhan, struktur kalimat yang salah sering dianggap benar karena faktor kebiasaan. Jika biasa dipakai, maka kesalahan pun menjadi benar. Sedangkan dalam pengajaran, kesalahan sekecil apapun tidak bisa ditolerir, karena jika dilakukan maka kesalahan pun akan menjadi ’benar’. Misalnya, kata ’ijin’ dianggap benar karena sering digunakan, dibandingkan dengan kata ’izin’ yang menurut aturan adalah kata yang benar. Atau kata ’analisa’ dengan kata ’analisis’, kata ’resiko’ dibandingkan ’risiko’, dan lain sebagainya. Kata majemuk ’tanggung jawab’ jika ditambah awalan ber- maka akan menjadi ’bertanggung jawab’ dengan penulisan terpisah, sedangkan jika diberi imbuhan per – an akan ditulis menyatu menjadi ’pertanggungjawaban’. Selanjutnya diberikan pula contoh-contoh kasus yang tampak sepele, tetapi sebenarnya tidak. Misalnya apakah memroses atau memproses, menyiasati atau mensiasati, perdamaian atau pendamaian, orangtua atau orang tua, apakah kantung atau kantong, saya membelikan adik baju atau saya membelikan baju untuk adik, serta contoh-contoh lain yang tampak biasa, namun sering keliru digunakan. Untuk hal ini, Nani dan saya memang cukup cerewet, apalagi jika kasus seperti ini ditemukan dalam tulisan ilmiah mahasiswa. Untuk mengetahui pedoman yang benar, maka Kamus Besar Bahasa Indonesia serta Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan menjadi buku pegangan wajib para guru. Guru tidak bisa menjawab berdasarkan ”perasaan”: biasanya ini benar, tanpa melihat kamus dan buku pedoman terlebih dahulu. Buku pedoman dan buku panduan pengajaran Bahasa Indonesia bisa didapatkan oleh sekolah dan para guru dengan cuma-cuma di Pusat Bahasa dan di Balai Bahasa.

Pemerolehan dan kompetensi bahasa yang meliputi tataran fonologis (bunyi), morfologis (kata), sintaksis (kalimat), dan semantis (makna) harus diintegrasikan ke dalam proses kegiatan belajar mengajar. Permainan-permainan yang telah disebutkan di atas pun disesuaikan dengan tataran kebahasaan tersebut. Permainan true or false misalnya digunakan untuk melatih tataran sintaksis, card sort untuk tataran semantis, dan lain-lain. Seperti pemerolehan pengetahuan yang lain, pemerolehan bahasa pun sebaiknya dilakukan bertahap dari tataran fonologis kemudian meningkat sampai ke tataran semantis, karena secara kognitif, manusia (dalam hal ini khususnya anak) memelajari dan memproduksi bahasa dari bunyi yang dia dengar kemudian ditiru dan diucapkan, kemudian membentuk kata, menyusun kata menjadi kalimat, berlanjut menuju memaknai kata atau kalimat. Kompetensi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis harus terintegrasi dalam pengajaran bahasa.

Pada akhirnya kami berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang kesulitan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada siswa, buku-buku yang bisa digunakan, bentuk-bentuk evaluasi yang bisa diberikan, pengajaran sastra, penelitian dan diskusi tentang pemerolehan bahasa pada anak, wacana peka jender yang muncul dalam buku-buku pelajaran, stigma yang bisa ditimbulkan dari bacaan-bacaan anak, variasi bahasa, serta banyak lagi yang lainnya. Tak terasa pelatihan yang sedianya akan berlangsung sampai pukul 12 siang menjadi mundur sampai ke pukul 15. Namun, kami mendapatkan dan belajar banyak hal dari teman-teman sesama pengajar yang menjadi peserta pelatihan tersebut. Harapan terbesar tentu saja adalah kami semua dapat berbahasa dan menggunakan dengan baik dan benar serta tepat pada waktu dan tempat, karena dengan kemampuan berbahasa yang baik, hal itu diharapkan dapat membantu kita untuk berpikir dan bernalar dengan lebih bernas dan terstruktur, serta dapat melatih kepekaan berpikir, bertindak, dan merasa. Untuk itu kami belajar bersama-sama di suatu hari sabtu yang cerah. Terima kasih untuk semua. Semoga ada manfaatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar